Pembiayaan UMKM

PEMBIAYAAN UMKM

 

Keluhan para pelaku usaha mikro kecil dan menengah mengenai masalah “klasik” permodalan UMKM tidak pernah selesai. Walau permodalan bukan merupakan satu-satunya masalah yang dihadapi tetapi pelaku UMKM akan selalu mengatakan bahwa kekurangan permodalan merupakan hambatan dalam menjalankan usahanya.

Modal dalam konteks ini merupakan sejumlah uang yang dipakai untuk membiayai kegiatan usaha (modal kerja dan investasi) masih dipersepsikan kebanyakan pelaku UMKM di Indonesia sebagai masalah yang paling penting dalam memulai atau mengembangkan usaha. Memang tidak salah mengatakan bahwa modal merupakan hal penting dalam memulai dan menjalankan usaha, tetapi ada yang lebih penting dari hal itu. Perencanaan yang matang atas ide usaha adalah hal yang paling penting dibandingkan modal karena permodalan sebenarnya merupakan faktor penunjang dari perencanaan usaha.  

Kasus di bawah ini mungkin akan lebih menjelaskan bahwa modal bukanlah hal utama yang harus dipenuhi oleh calon atau pelaku usaha.

Seseorang ibu rumah tangga yang berkecukupan dalam hal keuangan memliki keinginan untuk memulai suatu usaha di bidang konveksi dengan maksud mengisi waktu luang, menambah pendapatan keluarga dan orang disekitarnya. Yang bersangkutan membeli sejumlah mesin jahit, mesin obras, mesin lainnya serta bahan baku. Setelah kebutuhan material dan mesin tersedia, ternyata Ibu tersebut kebingungan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan pada material dan mesin yang ada sehingga ide untuk merintis usaha konveksi tersebut harus tertahan. Ibu tersebut kebingungan walaupun dari segi keuangan/modal tidak mengalami kesulitan, hal ini disebabkan Ibu tersebut tidak memiliki dasar baik teknis, pengetahuan pasar, kemampuan pengelolaan usaha serta gagalnya upaya menterjemahkan ide kedalam suatu rencana strategis dan teknis memulai usaha.

Dari kasus tersebut, terlihat bahwa permodalan yang mencukupi belum tentu dapat menggerakan roda usaha bila tidak dilandasi oleh perencanaan dan visi yang jelas akan usaha yang akan dimulai atau dikembangkan.

Coba baca kisah sukses pelaku usaha sepereti Bob Sadino pemilik KemChicks,  Yudi Wijaya pemilik usaha mobil iklan, dll, mereka sukses karena kemampuan menterjemahkan peluang bisnis  kedalam ide dan perencanaan bisnis yang mumpuni.

Kembali pada permasalahan kekurangan permodalan. Kekurangan modal yang diakibatkan tidak mencukupinya modal sendiri dalam memenuhi kebutuhan modal usahanya dapat diatasi dengan mencari dana ”gratisan” atau mengajukan pinjaman kepada pihak lain. Pihak lain tersebut bisa keluarga, teman, rentenir, bank, BPR, lembaga keuangn mikro, dana kemitraan BUMN, Leasing, Modal Ventura, pegadaian dan lainnya.

 Sayang selama ini pelaku UMKM masih lebih mengandalkan sumber pembiayaan non formal (keluarga, teman, atau rentenir) dibandingkan sumber pembiayaan formal. Hal ini terjadi karena  pangajuan pinjaman pada sumber pembiayaan non formal dirasa lebih mudah, cepat, tidak berbelit-belit.  Untuk mengakses sumber pembiayaan formal, kebanyakan pelaku usaha dihadapkan prosedur serta persyaratan yang sulit dan berbelit-belit, kurangnya informasi mengenai produk pembiayaan dan tidak terdapatnya sumber pembiayaan formal di lingkungan mereka. Berikut Karakteristik lembaga pembiayaan yang data menjadi alternative bagi pelaku UMKM dalam memperoleh pembiayaan :

Sumber Pembiayaan

Kelebihan

Kekurangan

Bank umum

·    Memiliki dana besar

·    Bunga kompetitif

·    Jaringan luas

·      Mengutamakan Sustainability (usaha min 2 th)

·      Mensyaratkan agunan (collateral)

·      Persyaratan administratif ketat

BPR

·    Persyaratan administratif relatif lebih longgar

 

·      Mensyaratkan agunan, meskipun lebih fleksibel

·      Bunga mahal

·    Jaringan terbatas

·    Sumber dana terbatas

Leasing

·    Tidak menyaratkan Agunan Tambahan

·    Hampir tidak ada Persyaratan Administratif (Cukup Rekening Koran & NPWP)

·      Bunga tinggi

 

Modal ventura

·    Sistem Bagi Hasil, sehingga tidak membebani bunga

 

·      Mengutamakan Sustainability (usaha min 2 th)

·      Mensyaratkan agunan

·      Persyaratan administratif ketat

·      Sumber dana terbatas

·      Jaringan terbatas

KSP

·    Lama usaha tidak selalu jadi pertimbangan

·    Tidak selalu mensyaratkan agunan

·    Membagikan keuntungan kepada para anggota

·    Persyaratan administratif longgar

·      Bunga tinggi

·      Sumber dana terbatas

·      Hanya memberikan pinjaman kepada anggota

·      Jaringan terbatas

Pegadaian

·    Lama usaha tidak selalu jadi pertimbangan

·    Persyaratan Administratif longgar

·    Jaringan Luas

·      Bunga tinggi

·      Mensyaratkan agunan

·      Kadang-kadang ada image negatif

PKBL BUMN

·    Memiliki Dana besar  dan bunga sangat rendah

·    Ada sistem monitoring

·    Sampai jumlah tertentu, tidak mensyaratkan agunan tambahan

·    Lama usaha tidak selalu menjadi pertimbangan utama

·      Persyaratan Administratif ketat

Keluaga/ Kerabat/ Teman

·    Berdasarkan kepercayaan

·    Sangat tergantung kepada kemampuan anda untuk “menjual” ide bisnis anda.

·      Dana terbatas

 

Rentenir

·    Mudah & cepat

·      Bunga sangat tinggi

·      Dana terbatas

 

Dengan memahami kelebihan dan kekurangan sumber pembiayaan baik formal maupun nonformal pelaku usaha dapat menilai dan menentukan sumber pembiayaan terbaik yang akan diakses sesuai dengan kondisi dan kebutuhan usahanya.

Silahkan Komentari

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s